Press "Enter" to skip to content

Salah Kaprah dengan Sampah

milenial 0

Rasanya perut sudah tak lagi nafsu untuk makan ketika ada bau tidak sedap masuk ke dalam rumah. “Bau apa ini?”, tanyaku pada adik.

Aku terkejut ketika melihat ruang keluarga yang sudah penuh dengan asap. Aku langsung menutup pintu dan jendela dirumah yang ternyata menjadi jalan bagi asap-asap tersebut masuk.

Kejadian ini bukan pertama kalinya dalam hidupku, asap tersebut sudah sering kali masuk tanpa permisi ke dalam rumahku. Meskipun begitu aku tak bisa melakukan apapun, salah satu cara yang sudah aku lakukan tidak mampu menyadarkan. Yah seperti yang kalian pikirkan, asap itu adalah asap dari pembakaran sampah yang dilakukan orang-orang di salah satu lahan kosong dekat rumah. Ini tidak bisa dibiarkan, mindset masyarakat harus diubah.

***

Pembakaran sampah

polusi udara
(Sumber: gettyimages.com/kevinfrayer)

Mengenai pembakaran sampah yang masih saja dilakukan, sepertinya hal seperti itu telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat sekitar. Jauhnya tempat pembuangan akhir sampah membuat orang-orang lebih memilih untuk membakarnya. Membakar sampah memang terkesan praktis dan mudah dilakukan. Terutama bila tinggal di daerah yang tidak ada petugas sampah keliling. Tentu, membakar adalah cara jitu yang bisa dilakukan.

Perihal bahaya dari pembakaran ini, bisa dikatakan sudah banyak yang mengetahuinya. Mulai dari sesak nafas, batuk, hingga kematian bisa saja terjadi pada kita. Namun sepertinya, bahaya tersebut sudah tak berarti bagi banyak orang. Mereka seakan tak peduli apa yang nanti mengancam kesehatan mereka.

Dilansir dari hellosehat.com Sejumlah bahan kimia dari asap pembakaran sampah itulah yang menjadi ancaman bagi kesehatan. Menurut US Environmental Protection Agency, karbon monoksida dan formaldehida (formalin) adalah dua zat utama hasil pembakaran yang paling banyak memicu penyakit pernapasan.

Tak hanya itu, kandungan zat berbahaya dari pembakaran ini juga akan terbawa angin dan juga bisa membuat polusi di sekitar. Semakin tingginya polusi yang ada akan mempengaruhi perubahan iklim di Indonesia. Perubahan iklim akan membuat banyak masalah baru yang nantinya semakin sulit untuk diatasi.

Seperti yang dilansir oleh situs KBR dalam webinarnya via youtube, persoalan perubahan iklim ini juga kompleks, penggunaan bahan bakar dan juga polusi yang tidak terkontrol berdampak pada lapisan ozon yang rusak dan berimbas pada panasnya bumi.

webinar KBR perubahan iklim
Seminar tentang perubahan iklim

Plastik sekali pakai

Meningkatnya jumlah sampah ditiap tahunnya menjadi masalah serius. Plastik menjadi salah satu bahan penyumbang terbanyak saat ini. Meskipun demikian, reaksi masyarakat tetap tidak berubah. Penggunaan plastik satu kali pakai masih selalu dilakukan oleh banyak orang. Terutama dalam masa pandemi ini, semuanya harus serba higienis dan steril membuat sampah plastik meningkat tajam.

Menurut The New England Journal of Medicine, virus ini masih dapat bertahan hidup selama 72 jam pada permukaan baja dan plastik, dengan jumlahnya berkurang setiap jamnya. Walaupun begitu, resiko penularan virus dengan menggunakan plastik sekali pakai tetap dianggap jauh lebih kecil daripada kantong belanja guna ulang (reusable).

Tumpukan sampah rumah tangga mencapai jutaan ton

Penggunaan sampah plastik sekali pakai akan membuat tumpukan dimana-mana. Jangan heran jika kalian sering kali melihatnya di jalan, sungai, laut dan bahkan dilahan kosong. Bau tidak sedap sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang berada dekat dengan tumpukan sampah.  Bahkan sepertinya tempat pembuangan akhir sampah sudah tidak muat lagi untuk menampungnya.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2017, timbunan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 67,1 juta ton. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2018, dimana tahun 2018 jumlah timbunan sampah tersebut diperkirakan sebanyak 66,5 juta ton. Peningkatan yang sangat signifikan bukan?

Membawa kantong kresek

Kenaikan sampah yang signifikan membuat kekhawatiran tersendiri bagiku. Terutama dimasa pandemi ini, semuanya harus bisa bebas dari virus. Namun bagiku, penggunaan plastik satu kali pakai bukanlah hal yang benar. Setiap melakukan pembelian yang dimana harus menggunakan kantong kresek, aku akan menyimpannya. Kantong kresek tersebut aku cuci sebelum  menyimpan di suatu tempat yang dimana bisa terkena terik matahari. Jika malam sudah tiba maka kantong kresek itu akan kuambil dan bisa kugunakan lagi.

Memang hal yang kulakukan tidak bisa terbilang bebas dari virus. Namun jika dibiarkan terbuang begitu saja, maka akan terkesan mubadzir. Tidak setiap kantong kresek yang kudapat harus dicuci dan kusimpan, ada kriteria tertentu supaya kantong kresek tersebut tidak terbuang sia-sia. Misal saja jika kantong kreseknya hanya digunakan sebagai kantong pembelian barang yang sudah terbungkus, maka kantong tersebut masih bisa digunakan lagi. Tak hanya itu, kantong kresek yang masih bagus, tidak sobek dan tidak bau akan bisa digunakan lagi dikemudian hari.

Setiap pergi ke warung, aku akan selalu membawa kantong kresek sendiri. Terkadang penjual merasa kebingungan dengan sikapku ini. Bahkan banyak yang bertanya-tanya kenapa aku melakukan ini. Namun kalimat yang selalu terucap dari mulutku adalah  “dirumah ada banyak kantong kresek”.

sampah

Permasalahan mengenai sampah bukan hanya tugas para pembersih lingkungan, penyapu jalanan dan pemerintah, ini adalah tugas kita semua. jangan karena merasa diri ini tidak memiliki jabatan di negara, berarti kita terbebas dari permasalahan sampah. Ingat! aku, kamu, kita semua adalah orang yang sama-sama menyumbang sampah. Benua sampah di daratan tersebut adalah ulah kita bersama. Jadi jangan seenaknya sendiri, sampah itu tanggaung jawab kita semua.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *