Press "Enter" to skip to content

Kondisi New Normal Di Laut Indonesia, Seperti apakah?

milenial 0

Halo semua, gimana kabarnya?

Semoga baik-baik aja ya, terutama kondisi kantong, mudah-mudahan gak pernah kosong

Mengenai kondisi new normal ini, gimana pendapat kalian?

Lumayan untuk mengurangi stress kah? Atau masih sama aja kayak kemarinnya? Sepertinya kita semua memerlukan vitamin ya? Khususnya vitamin sea! Bener ga? Suara ombaknya yang damai membuat rindu ini seakan candu. Siapa yang sudah merindu senja di laut?

Mumpung berbicara mengenai laut nih, gimana ya kabar laut Indonesia selama pandemi ini? Akankah kondisinya semakin baik? Atau malah tidak terurus? Pernah kalian mikir gitu karena saking lamanya ga pernah berkunjung? Atau bahkan udah pada nge list wisata mana aja yang bakal didatengi nanti. Bener ngga? Kalau bener kita sama.

Terakhir kali pergi ke laut, apa yang kalian rasakan? Banyak sampah? Ramai? Senang? Airnya kotor? Mancing tapi susah dapatnya? Adalagi kah?

Mungkin itu beberapa hal yang ada dalam pikiran kalian termasuk saya sendiri, saat tempat wisata laut masih dibuka selebar-lebarnya tepat sebelum 3 bulanan ini. Lalu bagaimana setelah 3 bulan ini ya? Akankah banyak perubahan yang menyenankan hati? Ehhh bukan hanya kalian yang berubah ya, laut juga bisa mengalami perubahan selama pandemi ini loh.

Menurut Githa Anathasia, Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat dalam wawancaranyadi situs KBR ada beberapa hal baik yang didapat selama pandemi ini yaitu semakin berkurangnya limbah industri yang dibuang ke laut karena kebanyakan industri sekarang yang mengurangi kuantitas produknya, Selain itu semakin jarang ditemukan sampah plastik di laut yang disebabkan oleh pengunjung ketika pariwisata. Dan yang lebih membahagiakan yaitu semakin banyaknya jumlah biota laut dibandingkan sebelum masa pandemi ini. Meskipun hanya beberapa saja, tapi udah bikin kita seneng kan?

Ikan di laut tidak usah kita kasih makan. Kita hanya biarkan dan kita jaga serta ambil dengan cara tidak semena-mena. Keserakahan kita harus dihentikan. Inilah tugas kita bersama, mengelola dan menjaga serta mengambil hasilnya dengan kaidah yang dibenarkan.

~Susi Pudjiastuti~

Mungkin kurang lengkap ya jika hanya dampak positifnya saja yang kita ketahui. Ada juga beberapa hal buruk yang mungkin membuat kita perlu melakukan sesuatu setelah mengetahuinya. Salah satu dampak negatif yang didapat yaitu kondisi perekonomian masyarakat sekitar laut yang mengandalkan pendapatan dari pariwisata. Memang permasalahan perekonomian tak bisa diremehkan begitu saja, pemberian bantuan sosial berupa uang maupun sembako tidak akan cukup. Ditengah-tengah pendapatan pariwisata yang tak ada lagi, membuat orang-orang nakal untuk menangkap ikan dengan cara yang kurang baik, semisal saja menggunakan bom. Ada juga beberapa wilayah laut yang masih menjadi tempat pembuangan sampah, seperti masker dan sarung tangan sekali pakai.

Lalu setelah mendengar hal tersebut, apa yang harus dilakukan?

Memberikan tanda peringatan “dilarang membuang sampah disini” tidak akan cukup untuk masyarakat-masyarakat yang kepedulian lingkungannya kurang ya. Lalu bagaimana? Dibiarkan begitu saja hingga membentuk lautan sampah? Atau kita tunggu sampai rumah di pesisir pantai tergenang?

Melihat perubahan iklim ditiap tahunnya yang semakin membuat kita ngeri, kemungkinan besar bisa loh air laut mengalami kenaikan yang signifikan. Bisa saja tingi air laut ini semakin bertambah dan bahkan makin menjalar ke rumah penduduk di pesisir pantai. Mungkin terlihat sangat tidak mungkin ya. Tapi kejadian tersebut telah ada buktinya.

Selain itu Prof. Muhammad Zainuri, Guru Besar Kelautan Universitas Diponegoro juga juga mengkhawatirkan kondisi laut yang saat ini airnya mengalami kenaikan parah.

“Satu hal yang selama ini kita ceritakan adalah menjoroknya garis pantai dari laut menuju darat. Dengan mengemukakan data dari Brebes hingga Rembang dalam 30 tahun yang lalu. Brebes pantainya telah bergeser kalau tidak salah mendekati sekitar 800 m. Pekalongan sekitar 900 m. Dan Semarang sekitar 2,3 km. Jadi ada daerah yang dulunya daratan sekarang menjadi genangan air laut. Bisa dibayangkan 2,3 km dalam kurun waktu 30 tahun”

Beliau mengatakan hal tersebut ketika diwawancarai oleh KBR mengenai penjagaan laut di tengah pandemi dalam vidio zoom bersama dengan bintang tamu lain yaitu Githa Anathasia, Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat.

Gimana? Udah bikin deg deg an belum? Lalu apa yang harus dilakukan?

  • Kita harus bisa mengontro limbah industri agar tidak lebih dari yang telah ditetapkan, baik itu yang dibuang di udara, laut, maupun darat.
  • Tanamilah tumbuh tumbuhan seperti mangrove dipesisir pabtai, karena manfaat mangrove sangat banyak
  • Patrol laut di tiap titik, meskipun hal ini memiliki pengaruh tidak terlalu besar tetapi setidaknya bisa mengontrol para masyarakat atau orang asing dalam membuang limbah/sampah di laut
  • Bagi diri sendiri, tak apa jika ingin berwisata ke laut untuk sekedar refreshing. Tapi dimoho agar semua peraturan yang ada disana ditaati. Dengan begitu kalian telah  peduli dengan kondisi lingkungan disekitar laut.

Mungkin di tengah pandemi ini, kita diberi peringatan oleh Tuhan bahwa menjaga ekosistem yang ada disekitar kita bukanlah urusan pemerintah atau daerah saja, tetapi KAMU juga berperan penting dalam masalah ini.

Bagaimana anak bangsa, siap untuk menjaga kelestarian laut mulai saat ini?

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *