Press "Enter" to skip to content

Indonesia Sebagai Paru-paru Dunia! Akankah Terus Seperti itu?

milenial 0

Berbicara mengenai hutan Indonesia, apa yang terlintas dalam pikiran kalian? Banyak hewan? Tumbuhan beraneka ragam? Karhutla menyerang? Atau paru-paru dunia?

Yaps! Tidak ada yang salah dalam hal itu, semuanya benar. Terutama dengan kata paru-paru dunia, itu sangat membuat kita merinding. Sadar atau tidak, bukankah kita telah jarang mendengarnya? Mungkinkah kita terlalu sibuk dengan hal lain? Atau malah sebutan itu hanya berlaku di tahun-tahun sebelumnya saja?

Sebutan Indonesia sebagai paru-paru dunia memang benar adanya, sebab saat itu kondisi hutan Indonesia sangat luas dan indah. Beragam fauna dan flora bisa ditemukan disana. Pemandangan hijaunya memberikan kesejukan dan bahkan kedamaian tersendiri bagi kita. Bisa dikatakan bahwa hutan menjadi penghasil oksigen yang baik bagi kehidupan. Itulah kenapa Indonesia mendapat julukan paru-paru dunia, ya karena memang saat itu, masih belum banyak polusi yang dihasilkan oleh perusahaan besar di Indonesia didukung dengan kondisi hutan yang masih baik dan luas.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Bukankah luas hutan Indonesia semakin berkurang?

Sekali lagi, pertayaan itu  benar! Memang ditiap tahunnya luas hutan semakin berkurang. Dan hal tersebut akan sangat berdampak bagi kehidupan kita.

Sangat terasa bukan, cuaca pagi untuk saat ini kian panas dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya terutama bagi kalian orang kota. Pasti hal tersebut sangat kalian rasakan. Ditambah dengan polusi dimana-mana, membuat kita berfikir untuk menanam pohon di pinggir jalan sebanyak-banyaknya, benar bukan?

Pemikiran seperti itu pernah saya alami, mulai dari ingin keluar menggunakan payung, maunya naik mobil yang ber-AC dan bahkan sampai malas untuk keluar dari rumah karena panasnya bikin mood hancur. Mungkin itu pemikiran saya ketika berkali kali pergi ke kota seperti Surabaya. Lalu apalagi sekarang? Belum kelar dengan pandemi covid-19 muncul berita mengenai Kebakaran Hutan dan Lahan pada awal musim kemarau. Kenyataannya memang tiap tahun bencana Karhutla tak bisa dielakkan. Karhutla muncul pada musim kemarau, dimana cuaca yang sangat panas membuat ratusan titip api di Hutan , dan sangat berpotensi menimbulkan kebakaran.

Menurut keterangan dalam podcast ruang publik KBR, Musim kemarau pada 2020 ini, selain akan memunculkan ancaman kebakaran, juga memiliki dampak lanjutan langsung berupa meningkatnya risiko penularan COVID-19 pada masyarakat di sekitar wilayah kebakaran lahan dan hutan. Pasalnya asap karhutla yang pekat akan memperburuk kondisi paru-paru. Sementara diketahui saat ini covid-19 juga menyerang sistem pernapasan. Lalu bagaimana penanganan yang akan Pemerintah Pusat dan Daerah lakukan mengenai kasus ini? Akankah hanya dianggap sepele dan lebih fokus ke penanganan covid-19? Simak selengkapnya dalam situs resmi KBR.

Dampak asap kebakaran hutan bagi wilayah sekitar memang tidak bisa diremehkan. Mulai dari ISPA, iritasi, mengurangi kinerja paru-paru, batuk yang parah dan masih banyak lagi. Bukankah untuk saat ini covid-19 juga menyerang tubuh terutama bagian pernapasan? Maka akan sangat bahaya jika kedua penyakit ini berada pada tubuh terutama area paru-paru. Pemberian masker gratis saja tidak akan cukup jika karhutla selama pandemi ini berlangsung, keduaya sangat ganas menyerang paru-paru.

Terutama kondisi saat ini udara sangat buruk. Mulai dari penyumbang polusi paling besar dari industri, kendaraan bermotor dan lain-lain akan sangat parah jika ditambah dengan asap dari kebakaran hutan dan lahan. Dimusim kemarau tahun ini akan berbeda dengan tahun sebelumnya, karena penanganan kasus karhutla harus lebih disiapkan matang-matang. Lalu apa yang harus dilakukan?

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=y7djd0VZzM0

Ternyata sebegitu besarnya dampak yang dihasilkan oleh berkurangnya hutan di Indonesia ya. Tidak ada lagi udara yang bersih, cuaca semakin panas dan dampak lainnya yang tak kalah bikin pusing.

 Mungkin itu sedikit pernyatan yang saya tulis mengenai #hutandanudara. Memang kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berdampingan layaknya seorang pasangan. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat bagi kalian semua, terutama kalian sebagai anak bangsa!

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). syaratnya, bisa Anda lihat disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *