Press "Enter" to skip to content

Adopsi Hutannya Selamatkan Semuanya

milenial 4

Keseruan belajarku terganggu ketika siaran televisi di ruang keluarga begitu keras suaranya. Yah! itu kerap kali terjadi ketika Ayah menonton berita di salah satu channel TV Indonesia.

“Karhutla lagi, karhutla lagi”, seru Ayah ketika sang pembawa berita membacakan topik terhangatnya.

Berita tersebut seperti terdengar biasa biasa saja, tak ada yang spesial dan bahkan terlihat kuno. Mungkin kalian sependapat dengan ini. Bencana yang menjadi langganan di musim kemarau ini bagaikan momok yang selalu mencuri perhatian pemerintah.

Meskipun terdengar kuno dan membosankan, kalau dibiarkan maka tak akan selesai. Maka dari itu diperlukan pemahaman yang mendalam bagi masyarakat mengenai betapa pentingnya hutan kita.

***

Menyapa hutan dan isinya

Keragaman flora dan fauna sepertinya tidak bisa dipisahkan dari hutan kita. Dengan luas hutan yang berbeda di tiap daerah membuat spesies di dalam hutan sangat beragam. Bahkan dengan keragamanannya tersebut bisa membuat ribuan spesies flora fauna hanya bisa ditemukan di Negara kita. Eitss! Ada yang lebih menarik dari ini.

Indonesia memiliki sekitar 8.000 spesies tumbuhan dan 2.215 spesies hewan yang sudah teridentifikasi. Disebut kaya akan spesies flora dan fauna, ternyata Indonesia menjadi rumah dari berbagai flora dan fauna eksotis dan juga langka.

Tak hanya itu, Indonesia menempati urutan pertama sebagai Negara yang memiliki keragaman jenis burung terbanyak di Asia dengan jumlah 15 ribu. Namun sayangnya, jumlah keberadaan mereka saat ini semakin berkurang dan bahkan ada yang hampir mengalami kepunahan. Sangat menyedihkan bukan?

Bertemu monyet di pinggir jalan

Melihat begitu banyaknya flora dan fauna yang ada, ingin rasanya jika kita diberi kesempatan untuk melihat langsung dan menjaganya. Namun sepertinya, Tuhan hanya memberikan kesempatan melihat salah satu dari mereka kepadaku. Kesempatan itu datang ketika kami sekeluarga ingin pergi menuju Kota Probolinggo yang dimana harus melewati  daerah Curahsawo sebagai jalan utamanya.

Awalnya memang terlihat satu dan dua ekor saja yang duduk di pinggir jalan, namun ketika menelusuri lebih jauh jumlah monyet semakin bertambah dan mengganggu kendaraan yang lewat.

Bagaimana rasanya jika melihat banyaknya monyet yang berkeliaran di jalan hingga mengganggu kendaraan bermotor? Takut dan trauma, itulah yang aku dapatkan ketika beberapa tahun lalu melewati daerah tersebut.  Jalan yang diapit oleh hutan yang tak luas ini terlihat begitu indah jika hanya dilihat dari sisi pepohonannya.

Namun rasa kasihan tiba-tiba hadir dalam diriku, ketika melihat beberapa ekor monyet memakan sisa buah yang orang orang berikan ketika melewati jalanan itu dengan begitu lahap. “ohhh mungkin mereka sangat lapar”, itulah kalimat yang berada dihatiku saat itu.

Paru-paru dunia sedang kritis

Di tahun-tahun berikutnya, kejadian tersebut tak lagi terulang. Entah memang karena waktunya yang tidak tepat atau karena sudah tak ada lagi monyet di dalamnya. Namun setiap aku melewati jalan  itu, yang ada hanyalah pepohonan kering dan tanah yang kekurangan air. Memang suasana beberapa tahun silam dengan suasana sekarang cukup memiliki perbedaan yang signifikan.

Perbandingan ini bisa diihat ketika memasuki musim kemarau. Tiga tahun belakangan ini hutan yang dekat dengan bukit di daerah Curahsawo menjadi daerah yang rawan kebakaran hutan

kebakaran hutan
(sumber: https://jatimnow.com/)

Sampai saat ini, bencana karhutla yang menyerang negara kita masih menjadi permasalahan  yang belum bisa diatasi. Karhutla dan deforestasi besar-besaran selalu saja menjadi topik yang selalu ada di tiap tahunnya.

 Selain itu, ada sedikit keganjalan ketika kita berbicara mengenai hutan Indonesia. Mengenai sebutan paru-paru dunia, bukankah saat ini kita telah jarang mendengarnya? Mungkinkah kita terlalu sibuk dengan hal lain? Atau malah sebutan itu hanya berlaku di tahun-tahun sebelumnya saja?

2% dari Hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya

Mengungkit balik perihal karhutla dan deforestasi besar-besaran. Memang 2 hal ini menjadi seluk beluk berkurangnya hutan di negara kita. Organisasi jaringan pemantauan hutan independen Forest Watch Indonesia (FWI) menyatakan angka laju deforestasi selama 2013 hingga 2017 mencapai 1,47 juta hektar pertahunnya.

 Kaget? Sepertinya sudah tidak ya, karena berita ini seharusnya sudah diketahui semua orang.

Mungkin angka tersebut terlihat sangat kecil apalagi jika disandingkan dengan satuan tahun. Namun pernahkah kalian mendengar “sedikit-sedikit lama lama mejadi bukit” , pernah?

Kalau seperti itu seharusnya kita harus mulai sadar, bahwa 2% itu akan berdampak besar nantinya. Bukan perihal angkanya, tapi mengenai lamanya. Semakin lama waktunya maka harapan Indonesia untuk menjadi paru-paru dunia akan berakhir ketidakmungkinan.

Kembalikan Hutanku

Bayangkan jika seluruh hutan Indonesia telah tiada. Apakah ada yang rela, tempat tinggal kalian menjadi tempat perlindungan hewan-hewan yang tersisa?

Melihat mereka berkeliaran dimana mana dan bahkan mengganggu hingga membuat kepanikan, tentu saja rasanya sangat menjengkelkan bukan?

Sama seperti mereka, tak ada yang ingin jika rumahnya dirusak dan dibakar seenaknya begitu saja. Tak jarang kita dengar banyak hewan liar yang turun menuju pemukiman ketika rumah mereka terancam. Dan sering juga kita lihat, beberapa hewan kerap kali mati mengenaskan ketika terjadi suatu kebakaran.

Lantas apa yang harus dilakukan? Memarahi orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Sepertinya hal itu terlihat sia-sia.

Seperti yang kita ketahui, terjadinya kebakaran hutan dan deforestasi yang disegaja merupakan perbuatan orang-orang yang pemahaman dan kecintaannya kepada lingkungan sangat minim. Maka dari itu, memarahi atau menghukumnya sekalipun tak akan membuat hutan kita tumbuh lagi. Kurang tegas dan kurang banyak seperti apa lagi peraturan yang ada di Indonesia, namun tetap saja masih banyak orang yang membakar hutan untuk kepentingannya sendiri.

Jaga hutan

Adopsi hutan

Salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk saat ini yaitu mengadopsi hutan. Adopsi hutan merupakan gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, floranya, serta keragaman hayati lainnya di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapapun dan dimanapun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya.

Adopsi hutan ini berbentuk urun dana yang nantinya akan diserahkan kepada para komunitas yang melakukan penjagaan hutan. Dana tersebut akan digunakan untuk aktivitas memastikan kelestarian hutan seperti patrol, pengembangan masyarakat sekitar hutan, termasukjuga mendukung pendidikan dan kesehatan masyarakat sekitar hutan.

jaga hutan

Meskipun kita tahu bahwa sikap sekumpulan orang untuk menjaga hutan tidak akan berdampak besar terhadap kuantitasnya, setidaknya hari ini kita berada pada barisan yang benar. Dengan ini kita menyebarkan kebaikan untuk alam. Jadi jangan pernah menganggap sia-sia hal-hal kecil yang sudah dilakukan untuk ikut #saveforest.

Hari ini di musim kemarau yang jatuh pada pertengahan tahun, bisa menimbulkan percikan api di tiap titik daerah. Kita bisa menjaganya jika bersama-sama. Mulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga hingga satu bangsa.

Adopsi Hutan

Demi mendukung membaiknya hutan Indonesia, pada tanggal 7 Agustus ditetapkan sebagai Hari Hutan Indonesia. Mari memulainya dengan hal kecil untuk menyelamatkan semuanya. Bersama kita bisa #jagahutanindonesia!

Jika hutan itu paru-paru dalam tubuh, Asap akan menjadi penyebab kerusakannya!

  1. Syarif Syarif

    Saya senang melihat kelengkapan informasinya dan status komitmennya. Semuanya bagus dan penuh semangat
    Semoga dengan adanya blog ini dapat menyadarkan sebagian orang yang yang kurang peduli terhadap lingkungan ..amin

  2. Singgeh Singgeh

    Saya senang melihat kelengkapan informasinya dan status komitmennya. Semuanya bagus dan penuh semangat
    Semoga dengan adanya blog ini dapat menyadarkan sebagian orang yang yang kurang peduli terhadap lingkungan ..amin

  3. Singgeh Singgeh

    Saya senang melihat kelengkapan informasinya dan status komitmennya. Semuanya bagus dan penuh semangat.

  4. kadafiy kadafiy

    terima kasih menyadarkan atas kepedulian terhadap lingkungan, sangatlah kita harus sadarinya karena merupakan tempat penghasil oksigen terbesar, penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, dan pelestari tanah serta merupakan salah satu aspek biosfer bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *